Rabu, 01 September 2010

Tiga Alasan Indonesia Emoh Perang

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan penjelasan kepada rakyat Indonesia mengenai hubungan bilateral antara Indonesia dan Malaysia di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (1/9) malam. Pemerintah Indonesia berpendapat bahwa solusi yang paling tepat untuk mencegah dan mengatasi insiden yang akan mengganggu hubungan baik kedua bangsa adalah dengan cara segera menuntaskan perundingan batas wilayah antara Indonesia dan Malaysia. (Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf/10)

01 September 2010, Jakarta -- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersikukuh bahwa penyelesaian masalah bilateral dengan Malaysia harus dilakukan dengan cara damai. Dalam pidatonya menyikapi masalah hubungan bilateral dengan Malaysia di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Rabu (1/9/2010), Presiden tak menyinggung sama sekali kemungkinan konfrontasi atau bahkan perang.

"Perkembangan dan dinamika kedua negara, salah satu hubungan bilateral Indonesia yang paling penting," ujar Presiden. Tiga alasan diungkapkan Presiden untuk menjaga hubungan Indonesia dan Malaysia tetap berjalan dengan erat.

Pertama, kata Presiden, Indonesia dan Malaysia memilik hubungan sejarah, budaya, dan kekerabatan yang sangat erat dan mungkin yang paling erat dibanding negara-negara lain dan sudah terjalin selam ratusan tahun. "Kita mempunyai tanggung jawab sejarah untuk memelihara dan melanjutkan tali persaudaraan ini," ujar Presiden.

Kedua, hubungan Indonesia dan Malaysia adalah pilar penting dalam keluarga besar ASEAN. "ASEAN bisa tumbuh pesat selama empat dekade terakhir ini, antara lain karena kokohnya fondasi hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia," lanjut Presiden.

Ketiga, ada sekitar dua juta orang Indonesia yang bekerja di Malaysia baik di perusahaan, di bidang pertanian, maupun di berbagai lapangan pekerjaan. Ini adalah jumlah tenaga kerja Indonesia yang terbesar di luar negeri. "Tentu saja keberadaan tenaga kerja Indonesia di Malaysia membawa keuntungan bersama bagi Indonesia maupun bagi Malaysia," jelas Presiden.

Sementara itu, ada sekitar 13.000 pelajar dan mahasiswa asal Indonesia yang belajar di Malaysia dan sekitar 6.000 mahasiswa Malaysia di Indonesia. "Ini merupakan aset bangsa yang harus dibina bersama dan menjadi modal kemitraan," kata Presiden.

Menurut Presiden, kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Malaysia menjadi alasan penting hubungan kedua negara harus dipertahankan. Wisatawan Malaysia yang berkunjung ke Indonesia merupakan ketiga tebesar dengan 1,18 juta orang dari total 6,3 juta wisatawan macanegara. Investasi Malaysia di Indenesia dalam lima tahun terakhir pada 2005-2009 berupa 285 proyek dengan nilai investasi berjumlah 1,2 miliar dollar AS. Sementara investasi Indonesia di Malaysia mencapai 534 juta dollar AS. Jumlah perdagangan kedua negara selama tahun 2009 mencapai 11,4 miliar dollar AS.

Pelepasan nelayan Malaysia dinilai lazim

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai, dikembalikannya tujuh nelayan Malaysia yang masuk ke wilayah Indonesia merupakan kelaziman di lingkungan ASEAN selama ini.

"Perlu diketahui, dalam kasus yang sama, banyak nelayan Indonesia yang diduga memasuki perairan negara sahabat juga dikembalikan ke negeri kita," kata Presiden. Tujuh nelayan Malaysia pun dikembalikan setelah diproses sesuai hukum yang berlaku di Indonesia.

Dikatakan Presiden, solusi yang paling tepat untuk mencegah insiden serupa adalah dengan cara segera menuntaskan perundingan batas wilayah baik darat maupun laut antara Indonesia dan Malaysia.

"Termasuk di wilayah Selat Singapura dan perairan Sulawesi maupun Ambalat. Perundingan ini dapat dipercepat. Semua ini mesti berangkat dari niat dan tujuan yang baik agar insiden serupa dapat dicegah dan ditiadakan," kata Presiden.

Seperti diketahui, pengembalian tujuh nelayan itu menjadi polemik. Berbagai kalangan menilai, pengembalian tujuh nelayan itu sebagai bentuk "barter" dengan tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan yang ditangkap Polisi Diraja Malaysia di wilayah Indonesia.

Jaga citra dan martabat

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta rakyat Indonesia agar menghindari kekerasan dalam menyikapi masalah hubungan Malaysia dan Indonesia menyusul insiden di perairan Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Sikap yang sama akan dilakukan pemerintah dalam menyelesaikan masalah bilateral dengan Malaysia.

"Kita harus senatiasa menjaga citra dan jati diri kita sebagai bangsa yang bermartabat dalam menjalin hubungan internaisonal tanpa kehilangan prinsip dasar politik luar negeri yang bebas aktif dan diabadikan untuk kepentingan nasional," kata Presiden.

Presiden mengajak seluruh rakyat untuk menjauhi tindakan yang berlebihan seperti aksi kekerasan karena hanya akan menambah masalah yang ada. Kekerasan sering memicu terjadinya kekerasan yang lain. Presiden berharap dapat menyelesaikan masalah dengan serius dan tepat tanpa destruktif.

"Cara menangani hubungan Indonesia dan Malaysia akan disimak dan diikuti oleh negara sahabat di Asia dan dunia internasional. Sebagai negara pendiri ASEAN, Indonesia sering jadi panutan dalam menyelesaikan konflik di negara ASEAN dan belahan bumi yang lain," ujar Presiden.

Ditekankan Presiden SBY, karakter dan peran internasional Indonesia yang konstruktif dalam menjaga perdamaian tetap dikedepankan. Presiden berjanji, insiden yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia yang terjadi akhir-akhir ini akan dituntaskan secepatnya.

Percepat perundingan batas wilayah


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, perundingan batas wilayah Indonesia-Malaysia harus segera dituntaskan agar tidak terjadi insiden yang mengganggu hubungan kedua negara.

"Pemerintah Indonesia berpendapat bahwa solusi yang paling tepat untuk mencegah dan mengatasi insiden-insiden serupa adalah, dengan cara segera menuntaskan perundingan," kata Presiden.

Presiden menjelaskan, perundingan yang dilakukan meliputi perundingan batas wilayah darat dan maritim termasuk di wilayah selat Singapura, dan perairan Sulawesi, atau perairan Ambalat.
"Indonesia berpendapat bahwa perundingan menyangkut batas wilayah ini dapat kita percepat dan kita efektifkan pelaksanaannya," kata Presiden.

Presiden menambahkan, perundingan harus didasari niat dan tujuan yang baik, agar insiden-insiden serupa yang mengganggu hubungan baik kedua bangsa dapat dicegah dan tiadakan.
Presiden menegaskan, memelihara hubungan baik dengan negara sahabat, apalagi dengan Malaysia, sangat penting.

"Tetapi, tentu kita tidak bisa mengabaikan kepentingan nasional, apalagi jika menyangkut kedaulatan dan keutuhan NKRI," katanya menegaskan.

Terkait itu Presiden mengatakan dirinya telah mengirim surat kepada Perdana Menteri Malaysia, yang intinya menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas terjadinya insiden penangkapan tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan oleh aparat Malaysia. "Saya juga mendorong agar proses perundingan batas maritim dapat dipercepat dan dituntaskan," ungkapnya.

Presiden menekankan, Indonesia menginginkan agar perundingan yang akan dilangsungkan kembali mulai 6 September 2010 dapat mencapai kata sepakat. Indonesia akan terus mendorong Malaysia untuk benar-benar menyelesaikan perundingan batas wilayah yang sering memicu terjadinya insiden dan ketegangan.

"Dengan demikian, dengan dapat dicegahnya ketegangan dan benturan-benturan yang tidak perlu, saya yakin permasalahan, hubungan baik dan kerjasama bilateral antara Indonesia-Malaysia akan berkembang lebih luas," tuturnya.

Kepala Negara menegaskan, dalam hubungan antarbangsa yang lebih luas, kedaulatan dan keutuhan wilayah adalah sangat vital dan harus tetap dijaga. "Kita harus terus membangun diri menjadi negara yang maju, sejahtera, dan bermartabat, dengan tetap menjaga hubungan baik dan kerjasama dengan negara-negara sahabat," demikian Presiden Yudhoyono.

KOMPAS.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar